Menuju Respons Kaltara Edisi Spesial : Saya (Millenial) untuk Kaltara Terdepan (1)

Menuju Respons Kaltara Edisi Spesial : Saya (Millenial) untuk Kaltara Terdepan (1)
KAUM MILLENIAL : 2 dari 7 narasumber ResKal edisi spesial, dr Rahmatia dan Wisian Nugraha Yanuar.

Dihelat
13 Maret nanti, Respons Kaltara (ResKal) edisi spesial garapan Biro Hubungan
Masyarakat (Humas) dan Protokol Sekretariat Provinsi (Setprov) Kaltara akan
menghadirkan 7 narasumber sekaligus. Siapa saja mereka, ini cuplikan profil
mereka.

Awad Baisa, Humas Kaltara

MENGANGKAT
tajuk ‘Saya (Millenial) untuk Kaltara Terdepan’, ResKal edisi khusus ini berupaya
menampilkan talenta muda nan kaya prestasi dari provinsi bungsu di Indonesia
ini. Pencarian berminggu-minggu pun mendaratkan keputusan tim ResKal kepada 7
kawula muda yang nanti akan diajak ngobrol, sharing informasi dan pengalaman
bersama Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie pada 13 Maret mendatang di Gedung
Serbaguna Kantor Gabungan Dinas (GADIS) Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara.

Adalah
dr Rahmatia. Pemudi millenial ini, lahir di Kecamatan Bunyu, Kabupaten Bulungan
9 Mei 1988. Mulai menekuni ilmu kedokteran sejak 2006, dan di 2012 wanita
berhijab ini pun diangkat sumpah menjadi dokter umum.

Mengandalkan
keahliannya itu, dr Rahmatia memfokuskan perhatiannya kepada penderita
hypertensi dan diabetis melitius tipe II. “Penderita komplikasi penyakit
hypertensi dan diabetes melitius tipe II khususnya pada lansia (lanjut usia) di
Pulau Bunyu cukup tinggi. Dan, ini juga penyebab kematian tertinggi di
Indonesia,” jelas dr Rahmatia.

Untuk
mengurangi tingkat kematian tersebut, dr Rahmatia pun melakukan inovasi.
“Inovasinya berupa pencegahan komplikasi penyakit tidak menular pada lansia dengan
menggunakan Mobil TUA (Tanggap Untuk Anda),” ucapnya.

Beruntungnya,
inovasi ini didukung oleh pihak-pihak terkait. “Dengan Mobil TUA ini, para
lansia yang berketerbatasan fisik juga kendaraan akan didatangi tim kesehatan
dari Puskesmas Bunyu untuk dilakukan pemeriksaan kesehatannya,” urainya.

Millenial
selanjutnya, adalah Wisian Nugraha Yanuar. Pemuda 25 tahun yang lahir di Bumi
Paguntaka-sebutan Kota Tarakan-ini, memiliki jiwa entrepreneurship di bidang
kewirausahaan yang tinggi.

Di
usia terbilang muda itu, alumni pendidikan farmasi apoteker Universitas
Surabaya ini sudah menjadi Manager Grab Tarakan, Owner Pondok Lesehatan Coffee
and Eatery serta apoteker penanggung jawab Apotek Dewi Farma. “Membawa
pengalaman dari hasil perantauan di Pulau Jawa, saya berusaha mengembangkannya
di kota kelahiran saya, Tarakan. Itu dasar motivasi saya untuk giat berusaha,”
kata Wisian.

Alasan
lainnya, Wisian tak ingin bekerja secara terikat dengan aturan serta ingin
menciptakan lapangan kerja bagi warga Tarakan lainnya. “Sepertinya, lebih enak
menjadi bos di usaha yang kita miliki dan kelola sendiri,” ujarnya.

Sejumlah
kesulitan ditemuinya saat memulai mimpinya tersebut. “Saya berusaha mengubah
konsep usaha yang ada, dari prioritas family menjadi kalangan anak muda. Juga
bagaimana menarik massa untuk mau menikmati layanan yang diberikan. Itu cukup
susah dan butuh waktu lama,” paparnya.(bersambung)

http://www.kilaskaltara.com/wp-content/uploads/2017/12/uykuykuyku.jpg

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply