Bangun Embung untuk Penuhi Kebutuhan Air Masyarakat – Akhir Tahun Ini Tiga Embung Ditargetkan Rampung

Bangun Embung untuk Penuhi Kebutuhan Air Masyarakat  – Akhir Tahun Ini Tiga Embung Ditargetkan Rampung

TARGET : Presiden RI Joko Widodo didampingi Menteri PUPR Basuki Hadimuljono dan Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie saat berkunjung ke lokasi pembangunan Embung Rawasari di Tarakan, belum lama ini.


TANJUNG SELOR – Salah satu kebutuhan dasar yang menjadi perhatian Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara) adalah memenuhi kebutuhan air baku masyarakat. Sejak awal berdiri, berbagai upaya pun telah dilakukan. Salah satunya dengan membangun sejumlah embung, sebagai penampung air baku.

Dialokasikan melalui dana sharing antara Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Kaltara, telah dibangun sejumlah embung di Kaltara. Di Kota Tarakan, pemerintah tengah membangun dua embung baru. Keduanya, yakni Embung Rawasari dan Embung Indulung yang   ditargetkan rampung pada tahun ini.

Sementara di Bulungan, dua embung yang dibangun antara lain Embung Tanjung Agung, Tanjung Palas Timur dan satu embung di Pulau Bunyu. Termasuk pemeliharaan embung di Nunukan.

Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie mengungkapkan, pembangunan embung ini merupakan usulan pemerintah daerah ke pusat. Dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat.

Dikatakan, kebutuhan air bersih masyarakat cukup tinggi. Sementara sumber air baku terbatas. Utamanya di beberapa daerah kepulauan, seperti Tarakan, Bunyu, Nunukan maupun Sebatik.

Di Tarakan misalnya, disebutkan, kebutuhan air masyarakat setempat mencapai 900 liter per detik yang diperuntukkan bagi sekitar 200 ribu jiwa. Sementara, pasokan air yang baru dapat terpenuhi sekitar 400 liter per detik. “Di pulau kecil seperti Tarakan dan Bunyu kebutuhan airnya tidak bisa mengandalkan air tanah, karena terpengaruh air laut sehingga menjadi payau,” kata Gubernur. Meski tidak bisa mengandalkan air tanah, curah hujan yang terbilang cukup tinggi setiap tahun, menjadi pertimbangan alternatif lain sebagai sumber air baku. Yaitu dengan membangun embung, untuk menampung curah hujan.

Proyek dua embung baru di Kota Tarakan. Yaitu embung Rawasari dan Embung Indulung nantinya memiliki kapasitas tampungan mencapai 235 ribu meter kubik dengan debit pengambilan sebesar 250 liter per detik utamanya untuk memenuhi kebutuhan air baku domestik dan industri.

Untuk Embung Rawasari, memiliki luas genangan 3,22 hektare dengan kapasitas tampung 112.000 meter kubik dan dibangun dengan anggaran Rp 68,44 miliar. Embung juga dilengkapi jaringan perpipaan sepanjang 4 kilometer, diameter 40 sentimeter dan dilengkapi 2 unit pompa dengan debit pengambilan sebesar 100 liter per detik. “Pengerjaan Embung Rawasari dikerjakan selama tiga tahap. Tahap I tahun 2016 dan saat ini sudah masuk tahap kedua dan targetnya akan selesai akhir 2018,” kata Gubernur.

Sementara pembangunan Embung Indulung juga disertai pembangunan jaringan pipa air baku sepanjang 11 kilometer, 2 unit pompa, genset, pos jaga dan bangunan pelengkap lainnya untuk melayani kebutuhan air di tiga kelurahan yaitu Kelurahan Kampung, Kelurahan Pantai Amal dan Kelurahan Kampung Enam.  

Total biaya pembangunan embung mencapai Rp 168 miliar dengan luas genangan sebesar 2,62 hektare dan kemampuan tampungan efektif mencapai 123.000 meter kubik. “Pada tahap III (2018) ini, melalui APBN kembali dialokasikan Rp 45,6 miliar. Targetnya bisa selesai pada akhir tahun ini,” ungkapnya.

Sama halnya embung di Tarakan, pembangunan embung di Desa Tanjung Agung, Kecamatan Tanjung Palas Timur juga dilakukan dalam tiga tahap. Selain sebagai sumber air baku, pembangunan embung yang didanai APBN ini, juga untuk mengatasi banjir musiman. Termasuk fungsi lainnya, sebagai tempat wisata.

Pembangunan tahap I yang dilaksanakan tahun 2016 dialokasikan anggaran Rp 17,9 miliar. Kemudian dilanjutkan untuk tahap II dengan anggaran yang digelontorkan sekira Rp 11,1 miliar. Sedangkan tahap III pada 2018 ini, dialokasikan Rp 19,8 miliar.

Embung yang dibangun dengan luas genangan air sekitar 2,1 hektare tersebut, bisa menampung air sekitar 61.430 meter kubik. Ditargetkan akan tuntas pada akhir 2018. Sementara embung di Pulau Bunyu, tahun kemarin dalam tahap pengadaan tanah. Lokasi lainnya, di Gunung Rian, Kabupaten Tana Tidung (KTT), dan Sungai Fatimah, serta embung Nunukan dalam tahap penyusunan UKL/UPL dan pembuatan Detail Engineering Design (DED).

BANGUN KANAL DAN JARINGAN IRIGASI

Masih di bidang pengairan, selain membangun embung sebagai penampung sumber air baku, pemerintah juga membangun jaringan irigasi untuk pertanian. Ada sejumlah kegiatan peririgasian dilakukan pemerintah sejak beberapa tahun terakhir. Di antaranya, jaringan reklamasi rawa di Sepunggur, Salimbatu, dan Tanjung Buka, Kabupaten Bulungan.

Di samping itu, ada pembangunan jaringan tata air tambak di Tanah Kuning dan beberapa lokasi lainnya di Bulungan. “Ada juga kegiatan pembangunan pengaman di Pantai Amal, serta kanal dan irigasi di kabupaten lain di Kaltara,” imbuh Suheriyatna, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPR-Perkim) Kaltara.(humas)

http://www.kilaskaltara.com/wp-content/uploads/2017/12/uykuykuyku.jpg

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply